“Kamu cukup tangguh untuk seorang wanita,” ejek Gahara, napasnya mulai terengah. “Tapi kemenangan tidak hanya soal kekuatan.” Gahara semakin memperkuat gerakannya.

Leena tetap menyerang tanpa henti, giginya menggertak, matanya penuh amarah. Dia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk memperkuat serangannya.

"Wanita ini memang diluar perkiraanku, dia cukup kuat dan cepat. Tetapi ini masih belum cukup," Gahara melemparkan serbuk bius dari balik pakaiannya.

Leena yang selalu waspada melihat gerakan Gahara dan menahan napasnya, namun gerakannya menjadi kaku. Tubuhnya terlempar terkena tendangan keras dari Gahara. Dia segera bangkit dan menyerang Gahara kembali.

Di saat yang genting, Mochi tiba di lokasi, mengikuti jejak Leena. Dia melihat Aliah yang terluka parah, di dekatnya Banu tergeletak di dekat pohon, dan Leena yang bertarung sengit melawan Gahara.

“Leena!” panggil Mochi.

Leena melirik sekilas, merasa lega melihat kehadiran Mochi."Kakek Mochi, tolonglah Aliah." katanya sambil menyerang Gahara.

Melihat Leena yang kewalahan menghadapi Gahara, Mochi memasuki pertarungan dengan tangan kosong."“Rawat Aliah! Aku akan mengurus Gahara,” katanya,

Leena menatap Mochi, dan melihatnya mampu menghadapi Gahara. Leena segera berlari menuju Aliah. Dengan tangan gemetar, dia memeriksa lukanya. “Aliah, bertahanlah. Aku akan membawamu keluar dari sini.”

Sementara itu, Gahara yang melihat pria tua dengan tangan kosong melawannya, segera berhenti dan mundur. “Apa yang bisa dilakukan orang tua sepertimu?” tanya Gahara sambil tertawa kecil.

Mochi berdiri menghadap Gahara tanpa senjata. Meski tubuhnya sudah menua, ketenangan terpancar dari tatapannya.

“Kau akan segera tahu,” jawab Mochi, suaranya tenang.

Pertarungan dimulai lagi. Mochi mengandalkan kecepatan dan teknik bertarung tangan kosong yang presisi. Ia menghindari setiap ayunan pedang Gahara, menyerang titik-titik vital dengan pukulan terarah. Gahara yang sudah mulai kelelahan karena bertarung dengan Leena, mulai kehilangan kendali, gerakannya melambat. Dalam serangan cepat, Mochi berhasil melumpuhkan tangan kanan Gahara, membuat pedang itu terlepas.

Namun, ketika Mochi hendak memberikan pukulan terakhir, Banu yang terluka parah bergerak dengan sisa tenaganya. Dia meraih pisau yang tergeletak di tanah dan menusukkannya ke dada Mochi.

Mochi tertegun. Matanya membelalak ketika darah mengucur deras dari lukanya. Dia menatap Banu dengan sorot penuh kecewa sebelum akhirnya tubuhnya terhempas ke tanah.

"Kakek Mochi!" Leena berteriak putus asa dengan Aliah di pangkuannya. Tatapannya terpaku pada Mochi dan Banu, matanya penuh ketidakpercayaan.

Di saat yang sama, Lala muncul bersama Arkha, Narendra, dan beberapa penduduk lainnya. Ketika melihat tubuh Mochi tergeletak tak bernyawa, Lala menjerit histeris. "Kakek! Jangan tinggalkan aku!"

Amarah Arkha membuncah melihat kekacauan itu. Dengan pedang di tangan, dia langsung menyerang Gahara tanpa ragu.

Melihat penduduk yang semakin banyak berdatangan, Gahara mulai panik. Dia menyadari rencananya telah gagal.

Arkha, yang melihat keraguan di wajah Gahara, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dalam satu ayunan, pedangnya menebas leher Gahara. Kepala musuh itu terpisah dari tubuhnya, mengakhiri hidupnya seketika.

"Aku harus pergi dari sini," pikir Banu sambil berusaha melarikan diri sebelum penduduk menyadarinya.

"Tangkap dia! Dia yang membunuh Kakek Mochi!" perintah Leena dengan lantang.

Para penduduk yang mendengar perintah itu langsung menoleh ke arah Banu. Mereka menatapnya penuh kecurigaan, menyadari dia mencoba melarikan diri.

"Tidak! Bukan aku... Aku bukan pembunuhnya!" Banu berteriak panik ketika penduduk mulai mendekat.

"Maafkan aku! Aku tidak sengaja... Leena, tolong maafkan aku! Arkha, kumohon!" Suara Banu dipenuhi ketakutan dan keputusasaan, tapi tidak ada yang mendengarkan.

Penduduk segera menangkap dan mengikat Banu setelah mendengar pengakuannya.

Lala berdiri di depan mereka, tatapannya dipenuhi dendam. Dengan gerakan tegas, dia mencabut pisau yang masih menancap di tubuh Mochi. "Kamu harus mati," gumamnya dingin sambil melangkah ke arah Banu.

Kael, yang menyadari niat Lala, buru-buru menahan lengannya. "Hentikan, Lala. Serahkan dia pada kepala suku. Dia akan menerima hukumannya dengan cara yang benar."

Namun, amarah membutakan Lala. Dia melepaskan diri dari Kael dengan kasar. Dalam gerakan cepat, dia merogoh tubuh Kael dan mengambil bom fragment kecil yang tergantung di sabuknya. Sebelum Kael bisa bereaksi, Lala melumpuhkannya dengan lutut yang menghantam keras perutnya.

"Lala, jangan lakukan ini!" teriak Arkha dengan panik saat Lala berlari ke arah Banu dengan bom di tangan.

Dalam hitungan detik, Lala menyelipkan bom itu ke mulut Banu. "Semua menjauh!" teriak Kael, mencoba memperingatkan penduduk.

Para penduduk yang mendengar peringatan Kael segera berhamburan menjauh. Mereka mengetahui kekuatan benda yang di pegang Lala. Sesaat kemudian, ledakan keras mengguncang tempat itu. Tubuh Banu hancur berkeping-keping, meninggalkan genangan darah di tanah.

Lala berdiri di tempatnya, terpaku, matanya kosong. Perlahan, tubuhnya ambruk ke tanah dan dia pingsan. Arkha berdiri mematung, tubuhnya bergetar. Dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berbisik, "Maafkan aku, Lala. Aku akan menebus semua kesalahan keluargaku."

Sementara itu, Ayunga melangkah mendekati tubuh Gahara yang tak bernyawa. Pandangannya tertuju pada sebuah kalung yang terlepas dari leher pria itu, dengan liontin yang terbuat dari batu. Ayunga meraih kalung itu dengan hati-hati, melepasnya dari tubuh Gahara, lalu menggenggamnya erat di tangannya.

"Ini... warisan leluhur yang hilang," gumamnya dengan suara pelan, nyaris berbisik. "Akhirnya aku menemukannya." Matanya menatap liontin itu penuh makna, seolah benda tersebut menyimpan kenangan yang tak terucapkan.

***

Di bawah langit senja yang perlahan gelap, Lynx mengintai dari balik rimbunnya dedaunan. Mata tajamnya mengawasi Kronar dan anak buahnya yang sibuk berpesta di sekitar api unggun besar. Beberapa penduduk desa yang menjadi tawanan tergantung di atas jurang, tubuh mereka kurus dan lemah. Jerat tali yang kasar menahan mereka di ambang maut, hanya beberapa langkah dari kejatuhan yang mematikan.

"Di atas jurang, dalam kurungan, dan terikat," gumam Lynx pelan sambil mengamati situasi. "Kronar benar-benar menyebar mereka untuk mempersulit penyelamatan. Tapi... kesombongan mereka bisa menjadi kelemahan terbesar mereka."

Lynx memperhatikan dengan seksama. Ratusan anak buah Kronar tersebar, tetapi tidak fokus. Beberapa tertawa, berbicara keras, dan tampak terlalu percaya diri. Dia melihat salah satu dari mereka memegang obor di dekat kurungan. Obor itu bisa menjadi kunci rencananya. "Aku harus menyerang mereka sebelum mereka siap. Mereka belum tahu kedatanganku."

Lynx terus memperhatikan, anak buah Kronar tertawa keras. Beberapa mabuk dan berbicara tanpa sadar, sementara yang lain mengelilingi tahanan, mengejek dan mengintimidasi mereka.

"Tolong... air..." erang seorang wanita tua dengan suara serak.

Seorang perampok menendang batu kecil ke arah wanita itu dan terkekeh. "Haus? Salahkan Lynx, yang tidak cukup peduli untuk datang menolong kalian!" katanya dengan nada mengejek sambil menenggak minuman keras dari kantung kulitnya.

Lynx mengepalkan tangannya, kemarahan memuncak di dadanya. "Mereka sangat kejam. Bertahanlah, semuanya... Aku akan menyelamatkan kalian."

Lynx meninggalkan tempat persembunyiannya sejenak, menuju sebuah tempat sunyi di hutan. Ia mempersiapkan kayu kering, lalu menyalakan api kecil. Setelah api menyala, ia mencoba menyimpan kayu itu ke dalam cincin penyimpanannya. Api padam begitu kayu itu masuk.

"Berhasil," pikir Lynx sambil menyeringai. "Sepertinya api tidak bisa disimpan di sini. Mungkin karena dianggap benda hidup, bergerak dan menghasilkan energi."

Ketika malam semakin larut, Lynx kembali ke tempat persembunyiannya. Ia mengamati Kronar dan para perampok yang mulai mabuk berat. Sebagian tertidur di sekitar api unggun, sementara beberapa lainnya berjaga dengan mata sayup. Kronar duduk di tengah, dekat dengan api besar, menikmati makanan dan minuman tanpa beban.

"Jangan bilang aku curang ya," batin lynx sambil tersenyum dan memulai aksinya. Dia mendekati api unggun dengan berhati-hati.

"Sekarang saatnya," pikir Lynx. Ia mengeluarkan tabung bambu berisi tanaman yang dapat membuat seseorang yang mencium aroma asapnya akan merasa kehilangan kekuatan, menjadi lemas bahkan pingsan. Dengan hati-hati, ia melemparkan tabung itu ke arah api unggun. Dalam beberapa saat, asap putih tipis mulai mengepul dan menyebar.

"Seperti yang kuduga, asap ini tidak akan terlalu maksimal karena posisi mereka berjauhan dan angin malam ini tidak bisa menyebarkannya." Batin Lynx.

